Sunday, 22 April 2012

Makan Daging Bantu Penyebaran Manusia di Bumi

Ketika manusia mulai memakan daging, mereka mengembangkan perburuan

Ketika manusia mulai memakan daging, mereka mengembangkan perburuan. Kualitas makanan yang lebih tinggi ini membuat perempuan bisa menyapih anaknya lebih cepat.

Perempuan pun bisa melahirkan anak lebih banyak pada masa reproduksi mereka. Ini berkontribusi pada kemungkinan penyebaran populasi secara bertahap di muka bumi.

Hubungan antara makan daging dengan percepatan proses menyapih menjadi materi studi peneliti dari Universitas Lund di Swiss. Mereka membandingkan dengan sekitar 70 spesies mamalia dan menemukan pola yang jelas.

Belajar berburu menjadi langkah penentuan evolusi manusia. Berburu mengharuskan komunikasi, perencanaan, dan penggunaan alat-alat yang menuntut kemampuan otak yang lebih besar. Makan daging dapat mengembangkan otak menjadi lebih besar.

"Ini telah diketahui sejak lama. Tapi, tidak ada yang menunjukkan hubungan kuat antara makan daging dengan durasi menyusui yang memegang peran krusial pada teka-teki masalah ini," ujar peneliti Universitas Lund, Elia Psouni.

Makan daging memungkinkan periode menyusui lebih cepat. Hasil ini dapat mempersingkat selang waktu kelahiran. "Ini pasti memiliki dampak penting pada evolusi manusia," ujar psikolog ini.

Ahli fisiologi syaraf, Martin Garwicz dan ilmuan evolusi genetik Axel Janke turut berpartisipasi dalam temuan yang dipublikasi dalam jurnal PLoS ONE ini.

Durasi rata-rata manusia menyusui yakni 2 tahun dan 4 bulan. Ini tidak terlalu berkaitan dengan umur maksimum spesies manusia sekitar 120 tahun. Jika dibandingkan dengan kerabat terdekat kita, simpanse betina menyusui anaknya selama 4-5 tahun. Umur maksimum simpanse hanya 60 tahun.

Banyak peneliti berusaha menjelaskan periode menyusui manusia yang lebih pendek berdasarkan teori-teori sosial dan perilaku orangtua dan ukuran keluarga. Tapi, peneliti Lund menunjukkan manusia tidak berbeda dengan mamalia lain dalam masa penyapihan.

Jika Anda memasukkan perkembangan otak dan komposisi makanan ke dalam persamaan ini, maka saat bayi berhenti menyusui bertepatan dengan pola mamalia lain. Model matematika yang dikembangkan Elia dan rekannya ini memuat data sekitar 70 spesies mamalia dengan berbagai tipe. Data ini berdasarkan ukuran otak dan pola makan. Spesies yang mendapat pasokan energi dari daging minimum 20 persen dapat dikategorikan sebagai karnivora.

Anak kecil pada semua spesies mulai berhenti menyusui ketika otak mereka mencapai tahap tertentu pada perkembangan menuju ukuran penuh otak. Pola makan berkualitas tinggi yang dimiliki karnivora membuat mereka dapat menyapih lebih cepat dari herbivora dan omnivora.

Manusia tidak berbeda dari karnivora lainnya. Semua spesies karnivora dari hewan kecil seperti rakun hingga sebesar paus memiliki masa menyusui yang singkat. Perbedaan terbesar manusia dan kera besar terletak pada ketegorisasi makanan. Manusia itu karnivora. Gorila, orangutan, dan simpanse itu herbivora dan omnivora.

"Mengatakan manusia memiliki kemiripan dengan binatang lain bisa dinilai provokatif. Kami berpikir budaya yang membedakan kita dengan spesies lain. Tapi, dalam soal menyusui dan menyapih, tidak perlu ada penjelasan sosial atau kultural. Faktor sosial dan kultural pasti memengaruhi variasi antar manusia," ujar Psouni seperti dikutip dari laman Eureka.com.

Ilmuwan ini berhati-hati menekankan hasil penelitiannya dengan evolusi manusia. Riset mengenai karnivora berkontribusi dalam penyebaran manusia di bumi. Ini tidak ada kaitannya dengan keharusan kita menyantap daging atau tidak.

Sumber : http://teknologi.vivanews.com/news/read/306219-makan-daging-bantu-penyebaran-manusia-di-bumi

Penyebab Kualitas Sperma yang 'Madesu'

Ghiboo.com - Bagi pasangan lain, memiliki anak ternyata amat sulit sekali. Berbagai cara sudah dilakukan, namun tak juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan.

Biasanya, wanita sering dituduh sebagai pemicu tak bisa memberikan keturunan. Padahal, pria juga memegang peranan penting, seperti kualitas spermanya. Karena, indikator penting kesuburan pria adalah sperma.

Bila pria dewasa namun belum mampu membuat istrinya hamil, maka perlu curigai kualitas spermanya. Mungkin saja spermanya masuk dalam kategori 'madesu' (masa depan suram).

Menurut Dr. Noroyono Wibowo, SpOG (K) selaku Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesi (POGI), terdapat beberapa penyebab yang dapat menurunkan kualitas sperma pria.

Tidak memvariasikan makanan

Para pria yang ingin sehat tak hanya harus mengonsumsi makanan sehat dan komplit namun juga memvariasikannya. Pola makan akan mempengaruhi produksi sperma.

"Banyak orang yang 'mendewakan' satu jenis makanan saja. Padahal ada vitamin tertentu yang tidak terdapat di jeruk, maka harus mengonsumsi buah-buahan lain. Sama seperti, protein yang terdapat dalam daging kambing, pasti berbeda dengan protein dalam daging sapi, ayam atau ikan. Jadi, perlu divariasikan demi kecukupan nutrisi," jelasnya.

Tidak berolahraga

Pria yang secara teratur melakukan olahraga lebih cenderung memiliki produksi dan kualitas sperma yang lebih baik.

"Karena, orang yang malas bergerak biasanya malah sakit," paparnya.

Pola hidup tak sehat

Membiasakan tidur malam tepat waktu ternyata cukup membantu meningkatkan jumlah dan kelincahan sperma.

"Percuma juga, jika pola makan baik dan rutin berolahraga, tetapi selalu tidur larut malam atau begadang. Hal ini akan menurunkan kualitas sperma Anda," tegasnya.

Merokok

Jika Anda masih menjadi perokok aktif hingga saat ini, maka segera berhentilah. Selain menyebabkan berbagai masalah kesehatan, merokok juga memengaruhi jumlah dan kualitas sperma.

"Pria yang merokok 12 batang per hari, kualitas spermanya turun hingga 42 persen," tegasnya.